Tetes demi tetes yang kurasa...
Hari pun dimulai…
Tetesan airmata kembali jatuh dan menggores
luka yang telah lama tertutupi. Menatap hamparan duka yang kian membara,
terkubur dalam gundukan yang merubah hari-hariku. Tak terbayangkan lagi wajah
yang dulu meneduhiku dengan jutaan kasih dan harapan. Sentuhan lembut angin
yang menerpa, membuat anganku semakin jauh, tempat ini menyuguhkan kehidupan
yang berbeda, kehidupan yang abadi dan menjanjikan keabadian yang ambigu.
Kutabur semua bebanku bersama serpihan
luka yang terpendam dalam genggaman bunga dan air mawar dalam tanganku.
Kupejamkan mata sembari merasakan rasa sakit yang sama, tangisan yang sama, dan
luka yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Rasa sesal menyeruak dalam
hati, memberikan kesan penat dalam diri. Perlahan namun pasti, kuperlambat
alunan napasku yang menderu, merasakan kedamaian yang tersimpan dalam tempat
ini. Wajah itu kemudian memenuhi takku dengan senyuman yang telah lama
kurindukan, kubenamkan wajah dalam telapak tanganku yang mungil, mencoba menenangkan
diri yang kembali bergejolak.
“hiks… sudah sekian tahun sejak
kepergian bunda, namun rasa sakit yang kurasa tetaplah sama. Tolong jawab semua
tangisku bunda, jangan bunda biarkan aku berkubang duka. Beri aku nasehat dan
tuntunan yang sama, beri aku tatapa yang dulu selalu aku inginkan dari bunda.
Sesulit apapun aku mencoba, aku tak dapat melupakan bunda, tak mampu tara
melepas beban yang selama ini menimpa kewarasan zara. Bantu tara bunda, bantu tara…”
tangisku tumpah disamping peristirahatan terakhir mendiang bunda. walaupun ini
sering terjadi, namun tak bosan bagiku untuk menumpahkan keluh kesal pada
bundaku. Dengan harapan, setelah semuanya tertumpah, aku dapat kembali menjadi
zara yang menyenangkan dan tak pernah terlihat sedih oleh orang lain.
Linangan airmata membuat diriku
kehilangan pertahanan, separuh tubuhku linglung dan memeluk nisan bundaku
dengan lemah, kucurahkan seluruh lukaku disana. Disanalah tempat yang paling
aman bagiku, tanpa satupun orang yang tahu. Hanya tempat ini yang dapat menerima
diriku yang sebenarnya, hanya tempat ini yang membiarkan aku berdiri tanpa
harus tersenyum, dan hanya tempat ini yang dapat membuat diriku tenang dengan
suasana yang selalu kurindukan, sunyi, sepi, dan tanpa keramaian ataupun
gangguan yang berarti.
***
*to be continue...