Minggu, 04 Agustus 2013

Tetes demi tetes yang kurasa...

Hari pun dimulai…

          Tetesan airmata kembali jatuh dan menggores luka yang telah lama tertutupi. Menatap hamparan duka yang kian membara, terkubur dalam gundukan yang merubah hari-hariku. Tak terbayangkan lagi wajah yang dulu meneduhiku dengan jutaan kasih dan harapan. Sentuhan lembut angin yang menerpa, membuat anganku semakin jauh, tempat ini menyuguhkan kehidupan yang berbeda, kehidupan yang abadi dan menjanjikan keabadian yang ambigu.

          Kutabur semua bebanku bersama serpihan luka yang terpendam dalam genggaman bunga dan air mawar dalam tanganku. Kupejamkan mata sembari merasakan rasa sakit yang sama, tangisan yang sama, dan luka yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Rasa sesal menyeruak dalam hati, memberikan kesan penat dalam diri. Perlahan namun pasti, kuperlambat alunan napasku yang menderu, merasakan kedamaian yang tersimpan dalam tempat ini. Wajah itu kemudian memenuhi takku dengan senyuman yang telah lama kurindukan, kubenamkan wajah dalam telapak tanganku yang mungil, mencoba menenangkan diri yang kembali bergejolak.

          “hiks… sudah sekian tahun sejak kepergian bunda, namun rasa sakit yang kurasa tetaplah sama. Tolong jawab semua tangisku bunda, jangan bunda biarkan aku berkubang duka. Beri aku nasehat dan tuntunan yang sama, beri aku tatapa yang dulu selalu aku inginkan dari bunda. Sesulit apapun aku mencoba, aku tak dapat melupakan bunda, tak mampu tara melepas beban yang selama ini menimpa kewarasan zara. Bantu tara bunda, bantu tara…” tangisku tumpah disamping peristirahatan terakhir mendiang bunda. walaupun ini sering terjadi, namun tak bosan bagiku untuk menumpahkan keluh kesal pada bundaku. Dengan harapan, setelah semuanya tertumpah, aku dapat kembali menjadi zara yang menyenangkan dan tak pernah terlihat sedih oleh orang lain.

          Linangan airmata membuat diriku kehilangan pertahanan, separuh tubuhku linglung dan memeluk nisan bundaku dengan lemah, kucurahkan seluruh lukaku disana. Disanalah tempat yang paling aman bagiku, tanpa satupun orang yang tahu. Hanya tempat ini yang dapat menerima diriku yang sebenarnya, hanya tempat ini yang membiarkan aku berdiri tanpa harus tersenyum, dan hanya tempat ini yang dapat membuat diriku tenang dengan suasana yang selalu kurindukan, sunyi, sepi, dan tanpa keramaian ataupun gangguan yang berarti.

***

*to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar